Username: 9821677063346
Password: 2ta
Username: 9821677063347
Password: je5
Username: 98216770633411
Password: f3d
Username: 98216770633412
Password: drx
Username: 98216770633413
Password: e4y
Username: 98216770633414
Password: y46
Username: 98216770633417
Password: 2gq
Username: 98216770633418
Password: tbp
Username: 98216770633419
Password: rcr
Username : 15881732328643
Password: 89302024052
Username: 93613297527468
Password : 89302024059
Username : 83720141438445
Password : 89302024056
Username : 22761962376817
Password : 89302024060
Username : 85016093499066
Password : 89302715790
Username : 35277184619199
Password : 89302715789
Username : 75644363574557
Password : 89302715788
Username : 13883358116827
Password : 89302715787
Username: 89302477648
Password: 97291477694635
Username: 89302477623
Password: 78279446463817
Username: 89302024051
Password: 75506146029436
Username: 89302477624
Password: 53168786956656
Username: 89302024052
Password: 15881732328643
Username: 89302024060
Password: 22761962376817
Username: 89302024059
Password: 93613297527468
Username: 89302024056
Password: 83720141438445
Username: 89302344824
Password: 55023705930708
Username: 89302477626
Password: 57005017223763
Username: 89302024053
Password: 87280686935224
Username: 89302024054
Password: 92399352005445
Username: 89302024055
Password: 84107885309936
Username: 89302024057
Password: 10018272780846
Username: 89302024058
Password: 35172428656837
Note; Selamat Mencoba Mr.boy
Rabu, 10 Agustus 2016
CARA MENGGUNAKAN AKUN SPEEDY INSTAN GRATIS / INDI SCHOOl
CARA MENGGUNAKAN AKUN
SPEEDY INSTAN GRATIS / INDI SCHOOl
Username :
89302477648 Password : 97291477694635
Username :
89302024051 Password : 75506146029436
Username : 89302024052 Password : 15881732328643
Username : 89302024060 Password : 22761962376817
User name : 89302024059 Paswor : 93613297527468
Username : 89302024052 Password : 15881732328643
Username : 89302024060 Password : 22761962376817
User name : 89302024059 Paswor : 93613297527468
User :
89302024053 Pass
: 87280686935224
User :
89302024057 Pass :
10018272780846
Username :
89302024056 Password
: 83720141438445
Username :
89302477625 sore jam 5 bisa password : 64457982477637
Username :
89302024054 Password
: 92399352005445
username :
89302477624 password
: 53168786956656
Username :
89301450638 password
: 70276552551730
Username :89301412823
password
: 89301016732230
Username :
89301412847 password
: 25289619588759bisa 01-06-2014
Username : 89302477623 password :
78279446463817
Username : 89302715790 Password : 85016093499066
Note : apabila udah gk konek log dengan username new””
Sabtu, 30 Juli 2016
Kolokium fisika
DAFTAR
ISI
LEMBARAN PENGESAHAN.................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
ABSTRAK................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1
B. Rumusan
masalah........................................................................ 3
C. Tujuan penelitian.......................................................................... 3
D. Manfaat penelitian....................................................................... 3
E. Penjelasan Istilah......................................................................... 4
BAB II. KAJIAN
TEORITIS.................................................................... 5
A. Dioda........................................................................................... 5
B. Dioda
sebagai saklar.................................................................... 6
BAB III. APLIKASI TEORI..................................................................... 17
A.
Lokasi dan Jadwal Penelitian...................................................... 17
B.
Prosedur Kerja............................................................................. 17
C.
Data Pengamatan......................................................................... 18
D.
Pengolahan Data.......................................................................... 20
BAB IV. PENUTUP.................................................................................... 27
1.
Kesimpulan.................................................................................. 27
2.
Saran-Saran.................................................................................. 27
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 28
LAMPIRAN
POWER
POINTS
BIODATA PENULIS
ABSTRAK
Pengertian
Dioda adalah
komponen aktif yang memiliki dua kutub dan bersifat semikonduktor. Dioda juga
bisa dialiri arus listrik ke satu arah dan menghambat arus dari arah
sebaliknya. Pada rangkaian listrik bercabang,
jumlah kuat arus yang masuk pada suatu titik percabangan sama dengan jumlah
arus yang keluar dan hal ini sesuai dengan Hukum I Kirchhoff.
.
BIODATA
PENULIS
- Nama
Lengkap :
BAIHAQI
- Tempat/
Tanggal Lahir :
Blangme, 2 Mai
1990
- Jenis
Kelamin : Laki-Lki
- Agama : Islam
- Kebangsaan :
Indonesia
- Status : Belum Kawin
- Riwayat
Pendidikan
a.
MIN 1 Kutablang : Tamat Tahun 2004
b.
MTSN Kutablang : Tamat
Tahun 2007
c.
MAN Matang
Glumpang Dua : Tamat Tahun 2010
- Alamat :
Darussalam
- Nama
Orangtua
a.
Ayah :
Ismail Daud
b.
Ibu :
Nafsiyah
- Pekerjaan
Orangtua
a.
Ayah :
Tani
b.
Ibu :
IRT
11. Alamat
Orangtua : Jln Water Intek
lr. Muda Husen Gamp Blangme Kec. Kutablang Kab. Bireun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Fisika merupakan bagian dari Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) atau Sains. Fisika sebagai IPA yang menyangkut
gejala-gejala alam yang dinyatakan dalam zat dan energi. Sehingga yang menjadi
pusat perhatian para ahli adalah hal-hal yang berhubungan dengan zat dan energi
yang ada diseluruh alam, bukan hanya yang ada di bumi melainkan diseluruh jagat
raya ini.[1]
Melahirkan penemuan-penemuan tentang alam ini maka para
ahli fisika melakukan kegiatan penyelidikan. Kegiatan penyelidikan dalam fisika
dapat diwujudkan dengan kegiatan eksperimen, maupun kajian teoritis dengan
selalu berdasarkan pada metode ilmiah. Dari rangkaian kegiatan itu akan dapat
dihasilkan suatu kebenaran berupa
konsep, asas, teorema ataupun hukum serta tetapan yang dapat diakui secara
umum. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temukan benda-benda yang
digunakan untuk menunjang semua aktivitas manusia. Ada tiga jenis wujud zat
(benda) yang kita ketahui yaitu, zat padat, zat cair, dan gas.
Gas
dan fluida merupakan medium perambatan, baik perambatan gelombang
permukaan air maupun perambatan
gelombang bunyi.
Bunyi
merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Bunyi ditimbulkan
oleh sesuatu yang bergetar, Istilah lain untuk bunyi adalah suara, kita
berkomunikasi sebagian besar melalui bunyi, yaitu suara yang kita keluarkan
dalam bentuk kata-kata dan suara yang kita keluarkan akan terdengar oleh orang
lain.
Gelombang bunyi yang merambat pada frekuensi
tertentu akan menggetarkan gendang telinga kita. Lalu memberikan informasi ke otak
sebagai suara atau bunyi tertentu sehingga
setiap saat kita bisa mendengar orang berbicara, suara hewan, suara
lonceng, nyanyian dan suara alat-alat musik yang dimainkan.
Bermacam-macam
alat musik yang dapat menghasilkan bunyi yang nyaring dan indah, minsal
sekelompok pemain orchestra yang sedang memainkan berbagai alat musik dibawah
komando seorang dirigen, seperti terompet yang ditiup, gendang yang di tabuh,
biola yang gesek serta gitar yang dipetik. Alat-alat musik ini menghasilkan
beragam frekuensi, mulai dari rendah hingga tinggi.
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi dalam
satu sekon. Frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh
manusia antara 20 Hz–20.000 Hz, bunyi yang berada pada rentang frekuensi ini
dinamakan audiosonik. Bunyi yang
memiliki frekuensi kurang dari 20 Hz disebut infrasonik dan bunyi yang memiliki frekuensi lebih dari 20.000 Hz
disebut ultrasonik. Tinggi nada bunyi
tergantung pada frekuensi atau panjang gelombang. Makin tinggi frekuensi atau
makin pendek panjang gelombang makin
tinggi nada bunyi.
Gitar merupakan alat
musik petik yang memiliki tujuh buah senar dengan lubang dibagian depannya,
ketika senar dipetik secara perlahan-lahan maka akan terdengar bunyi yang
berbeda untuk ketujuh tali senar tersebut. Bunyi yang berbeda-beda ini
dipengaruhi oleh amplitudo maupun frekuensinya.
Untuk mengetahui hubungan frekuensi terhadap
panjang senar, luas penampang, dan tegangan maka penulis mengambil judul
“Membuktikan Hukum Marsenne”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana
hubungan panjang senar pada frekuensi?
2. Bagaimana hubungan
luas penampang pada frekuensi?
3. Bagaimana hubungan
massa tegangan pada frekuensi?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui
panjang senar terhadap frekuensi.
2. Untuk mengetahui
luas penampang terhadap frekuensi.
3. Untuk mengetahui
tegangan terhadap frekuensi.
D. Manfaat Penelitian
Adapun
manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah membuka wawasan tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi senar pada alat musik petik yang
banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
E. Penjelasan Istilah
1. Bunyi
Bunyi
adalah getaran yang merambat dari suatu medium yang merupakan gelombang
longitudinal yang dapat merambat melalui zat padat, cair dan gas.
2. Frekuensi
Frekuensi
merupakan banyaknya getaran yang dilakukan tiap satu sekon. Satuannya dala SI
adalah Hertz (Hz).
Hubungan
antara frekuensi dan periode:
T
=
f =
Keterangan:
T
= periode (s)
f =
frekuensi (Hz)
3. Amplitudo
Amplitudo
adalah simpangan terbesar dari titik kesetimbangan.
4. Medium
Medium
adalah zat atau bahan dimana getaran merambat. medium dari gelombang lau t adalah adalah air laut, dan medium dari
gelombang bunyi adalah udara.
5. Cepat rambat bunyi
Cepat rambat bunyi adalah hasil bagi jarak
antara sumber bunyi dan pendengar dengan selang waktu yang diperlukan bunyi
untuk merambat.
BAB II
KAJIAN
TEORITIS
A.
Gelombang
Gelombang
didefinisikan sebagai energi getaran
yang merambat. Jenis-jenis gelombang
dapat dibagi berdasarkan ada tidaknya medium perambatan serta berdasarkan arah
rambatnya.
1. Gelombang berdasarkan ada tidaknya medium
perambatan.
a. Gelombang
mekanik
Gelombang mekanik adalah gelombang yang
memerlukan medium dalam perambatannya.
b. Gelombang
elektromagnetik
Gelombang elektromagnetik adalah
gelombang yang tidak memerlukan medium dalam perambatannya. Contoh gelombang
elektromagnetik adalah gelombang cahaya dan gelombang radio.
2. Gelombang berdasarkan arah rambatnya
a.
Gelombang tranversal
Gelombang tranversal adalah gelombang
yang arah rambatnya tegak lurus terhadap arah getarannya. Contoh gelombang
tranversal adalah gelombang pada tali dan gelombang elektromagnetik.
b.
Gelombang longitudinal
Gelombang longitudinal adalah gelombang
yang arah rambatnya sejajar dengan arah getarannya. Contoh gelombang
longitudinal adalah gelombang bunyi dan gelombang pada slinki.
B.
Gelombang Bunyi
Gelombang
bunyi merupakan gelombang longitudinal yang getarannya dirambatkan melalui
suatu medium (gas, cair, atau padat) dalam bentuk rapatan dan regangan. Ketika
lonceng dan garpu tala bergetar maka kita akan mendengar bunyi. Namun, ketika
keduanya tidak bergetar maka kita tidak dapat mendengarkan bunyi, hal ini dapat
dikatakan bahwa bunyi ditimbulkan oleh benda yang bergetar. Dibeberapa tempat
molekul-molekul udara didorong sehingga lebih berdekatan pada tekanan yang
lebih tinggi (rapatan) dan beberapa tempat lainnya molekul-molekul udara
didorong saling menjauh pada tekanan yang lebih rendah (regangan).[2]
Rapatan
dan regangan molekul-molekul udara dirambatkan sepanjang ruang ke telinga kita
sehingga kita dapat mendengarkan bunyi. Perlu diketahui bahwa molekul-molekul
udara hanya bergetar maju-mundur dan tidak merambat sepanjang ruangan, sehingga
gelombang bunyi termasuk gelombang longitudinal. Hampir semua zat menghasilkan
rapatan dan regangan. Oleh karena itu, bunyi dapat merambat melalui gas, zat
cair atau zat padat. Untuk merambat bunyi memerlukan zat antara atau medium,
dengan kata lain bunyi tidak dapat merambat melalui hampa udara (vakum). Bunyi
hanya dapat didengar jika ada penerima yang berada didekat atau dalam jangkauan
sumber bunyi. Ada tiga syarat untuk terjadi dan terdengarnyanya bunyi, yaitu:
1. Ada
benda yang bergetar (sumber bunyi).
2. Ada
zat antara (medium) tempat merambatnya bunyi.
3. Ada
penerima yang berada didekat atau dalam jangkauan sumber bunyi.
Bentuk gelombang bunyi dapat
dilihat dengan menggunakan mikrofon dan sebuah osiloskop. Bunyi ditangkap oleh
mikrofon dan diubah menjadi sinyal tegangan listrik, lalu bentuk gelombangnya
ditampilkan pada layar osiloskop. Bentuk gelombangnya tanpak seperti bentuk
gelombang tranversal. Panjang gelombang bunyi adalah jarak antara dua pusat
regangan ( atau pusat rapatan) yang berdekatan. Dimana panjang gelombang adalah
satu bukit atau satu lembah gelombang.
Menurut Widagdo Mangunwiyoto: ”Bunyi
dihasilkan oleh sumber bunyi yang bergetar”.[3] Sumber
bunyi tersebut dapat berupa beduk, gitar, biola, garfu tala, sayap lebah, dan
sebagainya. Bunyi juga merambat melalui medium (zat antara), minsalnya udara.
Rambatan bunyi diudara merupakan gelombang longitudinal. Sebagai gelombang
longitudinal, maka bunyi merambat dalam bentuk rapatan dan regangan yang
terbentuk secara berurutan.
Menurut
Joko Budianto: ”Bunyi dihasilkan oleh benda yang bergetar, getaran itu merambat
melalui medium menuju pendengar. Sama seperti gelombang lainnya, Sumber
gelombang bunyi merupakan benda yang bergetar”.[4]
Energi
dipindahkan dari sumber dalam bentuk gelombang bunyi. Selanjutnya, bunyi
dideteksi oleh telinga. Oleh otak, bunyi diterjemahkan, dan kita bisa
memberikan respon. Minsalnya, ketika kita mendengarkan suara lagu dari radio,
kita meresponnya dengan ikut bernyanyi, atau sekadar menggoyangkan kaki.
B. Cepat rambat
gelombang bunyi
Gelombang bunyi merambat dari tempat
asal getaran (sumber bunyi) sampai ketelinga kita memerlukan waktu, cepat
rambat bunyi didefinisikan sebagai hasil bagi antara sumber bunyi dan pendengar
dengan selang waktu yang diperlukan bunyi untuk merambat, dengan persamaan:
v =
Keterangan:
v
= Cepat rambat bunyi (m/s)
s
= Jarak dari sumber bunyi (m)
t
= waktu (s)
Hubungan antara cepat
rambat gelombang bunyi, panjang gelombang bunyi dan frekuensi bunyi adalah:
Keterangan:
v
= Cepat tambat bunyi (m/s)
f = frekuensi (Hz)
Cepat rambat bunyi dipengaruhi oleh suhu
udara, makin tinggi suhu udara makin besar cepat rambat bunyi atau makin rendah
suhu udara makin kecil cepat rambat bunyi. Umumnya bunyi merambat paling baik
dalam zat padat dan paling buruk dalam gas. Ini karena jarak antara partikel
dalam zat padat sangat berdekatan sehingga memudahkan getaran untuk merambat
dari satu partikel kepartikel lainnya dalam medium. Hal ini dapat dibuktikan
dengan mengambil sebatang kayu. Kemudian sebuah arloji diletakkan pada salah
satu ujung kayu, sedang ujung yang lain ditempelkan ditelinga, ternyata bunyi
arloji terdengar lebih keras jika menggunakan kayu dibandingkan tanpa
menggunakan kayu.
Bunyi yang merambat dari udara dingin keudara hangat maka
arah rambat bunyi berubah. Demikian pula bila bunyi merambat dari udara hangat
keudara dingin. Perubahan arah rambat bunyi karena perbedaan suhu medium
disebut pembiasan bunyi.
Gejala pembiasan menyebabkan bunyi mobil
atau kereta api terdengar lebih keras pada malam hari dibandingkan pada siang
hari. Hal ini dikarenakan pada malam hari permukaan bumi mendingin dengan
cepat. Lapisan udara di dekat permukaan bumi lebih dingin dari pada lapisan
udara diatasnya. Karena bunyi merambat lebih lambat pada udara dingin maka
bunyi mobil cenderung tidak menyebar keatas, melainkan kembali ke permukaan
bumi.
Secara umum cepat rambat bunyi dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu:
1. Kerapatan
partikel yang dilalui bunyi. Makin rapat susunan partikel medium, maka makin
cepat bunyi merambat, sehingga bunyi merambat paling cepat pada zat padat.
2. Suhu
medium. Makin panas suhu medium yang dilalui, maka makin cepat bunyi merambat.
Medium
udara bunyi mempunyai dua sifat khusus yaitu:
a. Cepat
rambat bunyi tidak bergantung pada tekanan udara, artinya jika terjadi
perubahan tekanan udara, cepat rambat bunyi tidak berubah.
b. Cepat
rambat bunyi bergantung pada suhu. Makin tinggi suhu udara, makin besar cepat
rambat bunyi. Pada tempat yang tinggi cepat rambat bunyi lebih rendah, karena
suhu udaranya lebih rendah.[5]
C. Frekuensi gelombang
Bunyi
Frekuensi merupakan banyaknya
getaran yang dilakukan tiap satu sekon. Satuannya dalam SI adalah Hertz (Hz).[6]
Hubungan
antara frekuensi dan periode:
T =
f
=
Keterangan:
T = periode (s)
f =
frekuensi (Hz)
Frekuensi bunyi yang dapat di dengar oleh
manusia antara 20 Hz – 20.000 Hz, bunyi yang berada pada rentang frekuensi ini
dinamakan audiosonik. Bunyi yang
memiliki frekuensi kurang dari 20 Hz disebut Infrasonik dan bunyi yang memiliki frekuensi lebih dari 20 000 Hz
disebut ultrasonik. Jangkrik dapat
mendengar bunyi infrasonik, itulah sebabnya jangkrik dapat mendengar langkah
kaki manusia dari jarak yang jauh. Anjing, lumba-lumba dan kelelawar juga dapat
mendengar bunyi infrasonik. Kelelawar dapat menghasilkan bunyi ultrasonik. Bunyi ultrasonik dipantulkan
oleh benda yang ada disekitar kelelawar sehingga ia dapat menghindari tabrakan
dan menentukan posisi mangsanya.
Bunyi ultrasonik dimanfaatkan untuk
industri. Contoh: gelombang ultrasonik dimanfaatkan untuk mengaduk susu agar
rata, mensterilkan makanan dalam kaleng dan meratakan campuran besi dengan
timah yang dilebur.
Nada
merupakan bunyi yang memiliki frekuensi tertentu. Sumber nada bisa berasal dari
pita suara ditenggorokan kita yang dapat menghasilkan nada yang merdu. Selain
itu dawai dan gitar yang dipetik juga merupakan sumber nada. Semua benda yang
bergetar pada frekuensi audio adalah sumber nada.[7]
Tinggi nada bunyi tergantung pada
frekuensi atau panjang gelombang. Makin
tinggi frekuensi atau makin pendek panjang gelombang makin tinggi nada bunyi. Kuat (keras) bunyi
bergantung pada amplitudo: makin besar amplitudo makin kuat (keras) bunyi.
Tinggi nada (frekuensi) senar dipengaruhi 4 faktor, yaitu:
1. Panjang
senar: makin pendek senar makin tinggi frekuensi.
2. Luas
penampang: makin tipis senar makin tinggi frekuensi.
3. Tegangan
senar: makin tegang senar makin tinggi frekuensi.
4. Massa
jenis: makin ringan senar makin tinggi frekuensi.
Frekuensi
alami tabung udara bergantung pada panjang gelombang kolom udara: makin panjang
kolom udara makin tinggi frekuensinya. Frekuensi alami garfu tala bergantung
pada panjang lengannya: makin panjang lengannya makin tinggi frekuensinya.
Resonansi adalah ikut bergetarnya suatu benda ketika benda lain didekatnya
digetarkan. Syarat terjadinya resonansi adalah frekuensi benda yang bergetar
sama dengan frekuensi alami benda yang ikut bergetar.
Bunyi
memiliki tiga sifat, yaitu tinggi rendah bunyi, kuat lemah bunyi, dan warna
bunyi. Tinggi rendah bunyi adalah kondisi gelombang bunyi yang diterima oleh
telinga manusia berdasarkan frekuensi (jumlah getaran/detik). Tinggi suara (pitch)
menunjukkan sifat bunyi yang mencirikan ketinggian atau kerendahannya terhadap
seorang pengamat. Sifat ini berhubungan dengan frekuensi, namun tidak sama.
Kekerasan bunyi juga memengaruhi titi nada. Hingga 1.000 Hz, meningkatnya
kekerasan mengakibatkan turunnya titi nada. Gelombang bunyi dibatasi oleh
jangkauan frekuensi yang dapat merangsang telinga dan otak manusia kepada
sensasi pendengaran.
Amplitudo adalah simpangan
maksimum, yaitu simpangan terjauh gelombang dari titik setimbangnya. Intensitas menunjukkan sejauh
mana bunyi dapat terdengar. Jika intensitasnya kecil, bunyi akan melemah
dan tidak dapat terdengar. Namun, apabila intensitasnya besar, bunyi menjadi
semakin kuat, sehingga berbahaya bagi alat pendengaran. Untuk
mengetahui hubungan antara amplitudo dan kuat nada, dapat diketahui
dengan melakukan percobaan menggunakan garputala.
Garputala
dipukulkan ke meja dengan dua pukulan yang berbeda, akan dihasilkan
yaitu pukulan yang keras menghasilkan bunyi yang lebih kuat. Hal
ini menunjukkan bahwa amplitudo getaran yang terjadi lebih besar. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa kuat lemahnya nada atau bunyi bergantung pada
besar kecilnya amplitudo. Semakin besar amplitudo getaran, maka
semakin kuat pula bunyi yang dihasilkan. Warna bunyi adalah bunyi yang
diterima oleh alat pendengaran berdasarkan sumber getarannya. Sumber getaran
yang berbeda akan menghasilkan bentuk gelombang bunyi yang berbeda pula.
Hal ini menyebabkan nada yang sama dari dua sumber getaran yang berbeda
pada telinga manusia.
Nada
adalah bunyi yang frekuensinya teratur, misalnya bunyi berbagai alat musik.
Tinggi rendahnya nada tergantung pada frekuensinya, sedangkan kuat lemahnya
nada tergantung pada amplitudonya.
Ilmuwan
fisika berkebangsaan Francis bernama Marsenne (1588-1648) menyelidiki hubungan
frekuensi yang dihasilkan oleh senar yang bergetar dengan panjang senar,
penampang senar, tegangan dan jenis senarnya. Alat yang digunakan marsenne
adalah sonometer.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi frekuensi nada alamiyah sebuah senar atau dawai menurut
marsenne adalah:
1. Panjang
senar, semakin panjang senar semakin rendah frekuensi yang dihasilkan.
2. Luas
penampang, semakin besar luas penampang
senar semakin rendah frekuensi yang dihasilkan.
3. Tegangan
senar, semakin besar tegangan senar semakin tinggi frekuensi yang dihasilkan.
4. Massa
jenis senar, semakin kecil massa jenis senar semakin tinggi frekuensi yang
dihasilkan. Secara matematis, hukum marsenne dituliskan:
f
=
=
λ
= 2l
Keterangan
:
f = frekuensi atau tinggi nada (Hz)
l = panjang senar (m)
F
= tegangan senar (N)
A
= luas penampang senar (m)
λ
= panjang gelombang senar (m)
Menurut
Agus Taranggono: “Bunyi yang frekuansinya teratur disebut nada.
Nada
dihasilkan oleh alat-alat musik”.[8] Bunyi
yang frekuensinya tidak teratur disebut desah, minsalnya bunyi angin, air terjun,
dan deburan ombak. Ada juga bunyi yang sangat singkat, tetapi kadang-kadang
sangat kuat disebut dentum, seperti bunyi meriam, senapan dan bom.
Tinggi
nada bergantung pada frekuensinya, semakin besar frekuensinya, semakin tinggi
pula nadanya. Marsenne fisikawan Francis
manyelidiki hukum yang berlaku untuk senar yang bergetardengan menggunakan
sanometer. Sonometer adalah alat yang digunakan untuk menyelidiki tinggi rendahnya
nada, berupa kotak kayu yang dilengkapi senar yang dapat diganti-ganti.
Penyelidikan
Marsenne mendapatkan hasil:
1.
Pada dua senar yang penampang dan tegangannya sama, semakin pendek senarnya
semakin tinggi nada yang dihasilkan.
2.
Pada dua senar yang panjang dan penampangnya sama, semakin tegang senarnya semakin tinggi nada yang dihasilkan
3.
Pada dua senar yang panjang dan tegangannya sama, semakin kecil penampangnya
semakin tinggi nada yang dihasilkan.
4.
Pada senar yang panjang dengan penampang dan tegangan sama, semakin kecil massa
jenis senarnya semakin tinggi nada yang
dihasilkan.
BAB
III
APLIKASI
TEORI
A.
Lokasi
dan Jadwal Penelitian
Percobaan ini dilakukan di
Laboratorium Fisika UIN Ar- Raniry Darussalam Banda Aceh pada tanggal
B.
Prosedur
kerja
1. Alat
dan bahan
a.
Gitar
b.
Senar 6 buah
c.
Meteran
d. Mikrometer Sekrup
2. Prosedur kerja
a. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
b. Diukur
masing-masing panjang senar dengan menggunakan meteran.
c. Diukur
masing-masing luas penampang senar dengan menggunakan mikrometer sekrup.
d. Dipasang
keenam senar pada gitar.
e. Petiklah
senar 1 dan dan senar 2 kemudian dengarkan nadanya.
f. Kemudian
petiklah senar 3 dan senar 4 dan dengarkan nadanya.
g. Selanjutnya
petiklah senar 5, senar 6 dan dengarkan
nadanya.
h. Gunakan
jarimu untuk memendekkan panjang masing-masing senar dan petiklah kembali,
bagaimana nadanya?
i. Petiklah
senar yang lebih tipis (senar 1), kemudian senar yang lebih tebal (senar 6) dan
dengarkan bunyinya.
j. Petiklah
salah satu senar dan dengarkan nadanya, kemudian dikendorkan senar tersebut dan
kembali dengarkan nadanya.
k. Ulangi
langkah e, f, g, h, i dan j.
l. Ditulis
hasil percobaan pada tabel pengamatan.
C.
Data
Pengamatan
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Panjang senar
mempengaruhi besarnya frekuensi bunyi yang dihasilkan. Semakin panjang senar
maka frekuensi bunyi yang dihasilkan semakin kecil, begitu pula sebaliknya,
senar yang pendek menghasilkan frekuensi bunyi yang besar.
2. Luas penampang senar
mempengaruhi besarnya frekuensi bunyi yang dihasilkan. Semakin luas penampang
senar semakin rendah frekuensi yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya semakin kecil
luas penampang maka frekuensi yang dihasilkan semakin besar.
3. Tegangan senar
mempengaruhi besarnya frekuensi bunyi yang dihasilkan. Senar yang tegang
(besar) akan menghasilkan frekuensi yang tinggi begitu juga sebaliknya, senar
yang kendor (kecil) akan menghasilkan frekuensi yang rendah.
B.
Saran
Percobaan yang dilakukan oleh penulis
semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya, dalam hal ini pembaca tidak
hanya mahir dalam memainkan alat-alat musik khususnya gitar, namum pembaca juga
bisa memahami bahwa ada beberapa aspek yang mempengaruhi frekuensi maupun nada
yang dipetik.
DAFTAR PUSTAKA
Agus
Tranggono, dkk. FISIKA SLTP. 2003.
Jakarta. Bumi aksara.
Hasan
Pratama. Ilmu Pengetahuan Alam (terpadu).
Maestro, Jakarta: 2004.
Joko Budiyanto. FISIKA SMA/MA kelas XII. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Ketut
Lasmi. Bimbingan Pemantapan Fisika.
Bandung: Yrama Widya, 2004.
Marthen
Kanginan. Sains FISIKA SMP untuk Kelas
VIII. Jakarta: Erlangga, 2004.
Nyoman kertiasa. FISIKA I Untuk Untuk SMU Kelas XI.
Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1993.
Widagdo
Mangunwiyono. Pokok-pokok FISIKA SMP
untuk kelas VII. Jakarta: Erlangga, 2004.
[1] Ketut
Lasmi, Bimbingan Pemantapan Fisika,
(Bandung: Bumi Aksara, 2004), hal. 102.
[2] Marthen Kanginan, Sains Fisika SMP untuk Kelas VIII,
(Jakarta: Erlangga, 2004), hal. 129.
[3] Widagdo
Mangunwiyoto, Pokok-pokok Fisika SMP
untuk Kelas VII, (Jakarta: Erlangga, 2004), hal. 67.
[4] Joko
Budiyanto, Fisika SMA/MA kelas XII, (Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2007), hal. 67.
[6] Widagdo
Mangunwiyoto, Pokok-pokok Fisika SMP…, hal:
68.
[7]
Nyoman Kertiasa, Fisika I untuk SMU Kelas
XI, (Jakarta: Erlangga, 1993), hal. 175.
[8] Agus tranggono, dkk, FISIKA SLTP, (Jakarta: Bumi aksara,
2003), hal. 64.
Langganan:
Postingan (Atom)







